Welcome to My Blog

Sabtu, 07 April 2012

S.A.H.A.B.A.T

Yaa Allah...Yaa Tuhan-ku
Berikanlah segala kemudahan bagi saudara/i dan sahabat-...sahabatku sebagaimana Engkau berikan kemudahan bagi orang-orang yg sholeh sebelumnya..
Luaskan rezekinya sebagaimana Engkau luaskan bumi
beserta isinya...

Percantiklah akhlaknya dgn ketaqwaan...
Indahkan lisannya dgn kesantunan..
Lisan yg selalu basah menyebut nama-MU Ya Allah..
Kuatkan badannya dgn kesehatan...

Jagalah hati serta jiwanya agar senantiasa terhindar dari segala kesalahan...
Peliharalah ia dari siksa dunia dan akhirat-MU ya Allah..
Anugrahkanlah ia sifat pemaaf kepada orang-orang yg pernah menyakitinya...

Golongkanlah ia ke dalam golongan orang-orang yg sholeh agar bisa mempersembahkan yg terbaik untuk-MU ya Allah

Jauhkanlah ia dari sifat lalai dalam mengingat-MU...
Berikanlah rasa kesabaran dalam dirinya...
Dan jadikan pula ia orang yg pandai bersyukur atas segala ni'mat-MU ya Allah...

Karuniakanlah kepadanya hati yang jauh lebih indah dari seindah apapun penampilannya..
Hati yang jauh lebih kaya dari sebanyak apapun harta yang dimilikinya...
Lembutkanlah hatinya ya Allah...

Duhai Yang Maha Menatap lagi Maha Mendengar..
Sungguh...

Rahmat-MU tiada terbatas...
Kasih sayang-MU tiada bertepi...
Cinta-MU seluas langit dan bumi...
Ampunan-MU menutupi murka-MU...

Maka berikanlah semua itu padanya ya Allah...

Ampunilah dosa-dosanya...
Ampunilah kesalahannya...
Ampunilah atas kealpaannya...

Rabb...
Jika ada kata-kata lebih dari sekedar permohonan..
Jika ada kata-kata lebih dari sekedar pertobatan...
Pasti ku akan menyebutnya untuk-MU ya Allah...

Ya Allah ya Tuhanku...
Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih...
Sungguh...
Jika bukan Engkau yang kutuju...
Dan jika bukan Engkau yang mengabulkan do'aku..
Maka siapa lagi yang dapat mengabulkannya selain Engkau
Maka kabulkanlah Ya Allah..do'aku untuk mereka, sahabat, saudara dan saudariku semuanya...
...Aamiin Ya Allah Aamiin ..Ya Rabbal alamin...

Do’a Dari Rani – A True Story

Do’a Dari Rani – A True Story
Rani, bocah kelas empat SD dengan serius tengah menulis sesuatu sejak tadi. Berkali-kali ia terlihat berpikir kemudian menulis kembali di atas selembar kertas kemudian memasukkannya ke dalam sebuah amplop. Bundanya mulai bertanya-tanya sedang apakah anaknya gerangan. “Rani, sedang menulis apa?” Tanya Bundanya sembari mendatangi meja belajar Rani. “Sedang menulis surat Bunda.” Jawab Rani. “Untuk siapa?”, “Untuk Allah.” Bundanya tampak heran namun Rani memulai cerita bahwa tadi pagi di sekolah guru agamanya mengajarkan bahwa Allah akan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya jika mereka meminta. “Ya, lalu untuk apa surat ini sayang?” Tanya Bunda masih tak mengerti. “Rani menuliskan semua doa-doa Rani di surat ini, Rani minta Allah mengabulkannya. Allah pasti membaca surat Rani, iya kan Bunda?”, “Iya sayang, Allah Maha Melihat, Allah pasti melihat surat Rani.” Jawab bunda.

Rani merupakan anak semata wayang di keluarganya. Ayahnya sedang mengidap sakit keras, bahkan dokter telah menyerah dan memvonis bahwa umur ayah Rani tidak akan lama lagi. Beberapa hari berlalu, kali ini, tidak seperti biasanya sebelum berangkat ke sekolah Rani memeluk tubuh ayahnya erat-erat, lama sekali, Rani mencium kening dan pipi ayahnya. Bundanya menatap sedih, seolah terlihat Rani khawatir tidak bisa melihat ayahnya lagi sepulang dari sekolah nanti.

Setelah Rani berangkat, Bunda Rani merapikan meja belajar anaknya, kemudian hatinya tergerak untuk membuka amplop-amplop yang berada di atas meja itu. Ia membaca surat buatan anaknya itu satu per satu. “Kepada Allah di tempat, Ya Allah, Rani besok mau ujian Matematika, baguskan nilai Rani ya Ya Allah. Amiin.” Bundanya tersenyum kemudian membuka surat yang lain. “Untuk Allah yang Rani cintai, hari ini Rani menanam bunga di dekat jendela kamar Rani, tumbuh suburkan bunga-bunga yang Rani tanam ya Ya Allah. Terimakasih Ya Allah.” Di surat lainnya Rani menulis, Ya Allah, hari ini Rani diganggu anjing si Ogi. Hukum anjing si Ogi itu Ya Allah.”

Sejenak kemudian bunda Rani berhenti membaca, ia baru menyadari sesuatu. Doa-doa Rani itu, Allah telah mengabulkan semuanya. Beberapa hari yang lalu dengan bangga Rani menunjukkan nilai matematika yang bagus kepada bunda dan ayahnya. Bunda Rani langsung berdiri dan mengintip ke jendela, terlihat bunga berwarna-warni bergoyang-goyang ditiup angin sepoi-sepoi. Bunga itu tumbuh subur seperti yang diminta Rani kepada Allah. Bunda Rani langsung membuka semua surat-surat yang lainnya. Kemudian hatinya bimbang dan heran. Mengapa tak satu pun surat yang berisi permohonan agar ayahnya segera sembuh?

Di siang harinya telepon rumah berdering, ”Assalamu’alaikum, dengan bundanya Rani?” suara di seberang sana. “Wa’alaikumussalam, iya. Dengan siapa? Ada apa ya?” Tanya Bunda Rani. “Ibu, saya guru Rani di sekolah. Kami ingin memberitahu ibu kalau Rani mengalami kecelakaan, ia terjatuh dari lantai empat sekolah dan meninggal.” Betapa shock dan kagetnya mendengar berita yang menimpa puteri semata wayangnya.

Setahun sudah berlalu semenjak kejadian itu. Ayah Rani yang dulunya telah diprediksi oleh dokter tidak akan berumur lama lagi tersebut masih hidup hingga kini. Bahkan keadaannya semakin hari semakin membaik. Ayah dan bunda Rani masih sangat kehilangan dan terpukul sehingga mereka tak pernah lagi membuka kamar tidur Rani dahulu. Mereka mengunci kamar itu dan tak pernah masuk ke dalamnya karena akan merasa sangat sedih jika melihat kamar itu. Hingga suatu kali saat Bunda Rani tengah lewat di depan pintu kamar Rani terdengar bunyi sesuatu, seperti suara benda jatuh. Akhirnya karena penasaran Bunda Rani membuka pintu itu setelah setahun lamanya terkunci. Ternyata yang terjatuh adalah ukiran ayat kursi dari kayu yang tergantung di kamar Rani. Bundanya pun bermaksud membersihkan debu di benda itu dan menggantungnya kembali di dinding. Namun, ia melihat sesuatu terselip di balik ukiran kayu itu, ternyata surat Rani..! 

Bundanya membuka kertas itu dan membaca isinya, “Ya Allah, Ayah Rani sedang sakit keras Ya Allah. Tolong jangan ambil nyawa Ayah Ya Allah. Ganti saja dengan nyawa Rani.”
(http://qyhanaray.blogspot.com)

Kamis, 05 April 2012

RA Kartini dan Islam


RA Kartini dan Islam

Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis;
Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?

Alquran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca.

Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.

Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?

RA Kartini melanjutkan curhat-nya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon.

Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya.

Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kita ini teralu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.


Namun, Kartini tidak menceritakan pertemuannya dengan Kyai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang -- lebih dikenal dengan sebutan Kyai Sholeh Darat. Adalah Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat, yang menuliskan kisah ini.

Takdir, menurut Ny Fadihila Sholeh, mempertemukan Kartini dengan Kyai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.

Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.

Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.

Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kyai Sholeh.

"Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?" Kartini membuka dialog.

Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. "Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?" Kyai Sholeh balik bertanya.

"Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Al Quran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku," ujar Kartini.

Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; "Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?"

Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanallah. Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa.

Setelah pertemuan itu, Kyai Sholeh menerjemahkan ayat demi ayat, juz demi juz. Sebanyak 13 juz terjemahan diberikan sebagai hadiah perkawinan Kartini. Kartini menyebutnya sebagai kado pernikahan yang tidak bisa dinilai manusia.

Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Sayangnya, Kartini tidak pernah mendapat terjemahan ayat-ayat berikut, karena Kyai Sholeh meninggal dunia.

Kyai Sholeh membawa Kartini ke perjalanan transformasi spiritual. Pandangan Kartini tentang Barat (baca: Eropa) berubah. Perhatikan surat Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon.

Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban.

Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan.

Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis; Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai.

 Lalu dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis; "Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah.


REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Teguh Setiawan/Wartawan Senior Republika

Bisakah Kita Membalas Kebaikan Ibu? Inilah Jawaban Islam


Bisakah Kita Membalas Kebaikan Ibu? Inilah Jawaban Islam
Kasih ibu (ilustrasi).

Suatu hari, Ibnu Umar melihat seseorang yang sedang menggendong ibunya sambil thawaf mengelilingi Ka’bah. Orang tersebut lantas berkata kepadanya, “Wahai Ibnu Umar, menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku?”

Ibnu Umar menjawab, “Belum, meskipun sekadar satu erangan ibumu ketika melahirkanmu. Akan tetapi engkau sudah berbuat baik. Allah akan memberikan balasan yang banyak kepadamu terhadap sedikit amal yang engkau lakukan.” (Kitab al-Kabair karya adz-Dzahabi).

Kisah di atas memberikan pelajaran berharga kepada kita bahwa setiap anak tidak akan dapat membalas jasa orang tuanya, kecuali ia menemukan orang tuanya sebagai budak, lalu dibeli dan dimerdekakan. (HR Muslim). Dalam hadis lain, “Berbuat baik kepada kedua orang tua itu lebih utama daripada shalat, sedekah, puasa, haji, umrah, dan berjihad di jalan Allah.” (HR Thabrani).

Apakah masih ada kewajiban berbuat baik kepada orang tua setelah keduanya wafat? Sabda Nabi SAW, “Masih, yaitu mendoakannya, memohonkan ampunan untuknya, menunaikan janjinya, memuliakan temannya, dan menyambung hubungan kerabat yang tidak tersambung kecuali dengannya.” (HR Abu Dawud, Ibnu Hibban, dan al-Hakim).

Sejarah mencatat, banyak orang hebat yang lahir dari seorang ibu yang juga hebat. Kita tidak akan dapat menjadi hebat seperti sekarang tanpa sentuhan darinya. Maka, tak berlebihan jika ada ungkapan, Al-Jannatu tahta aqdami al-ummahat”, surga berada di bawah telapak kaki ibu.

Karena itu, ketika seorang laki-laki berhijrah dari Yaman kepada Nabi SAW dan ingin berjihad. Kemudian, Nabi SAW bertanya, “Apakah di Yaman masih ada kedua orang tuamu?”

“Masih ya Rasulullah” jawab laki-laki itu.

Nabi SAW bersabda, “Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan mintalah izin darinya. Jika keduanya memberi izin maka engkau boleh berjihad dan jika keduanya tidak mengizinkan maka berbuat baiklah kepadanya, karena hal itu merupakan sesuatu yang paling baik yang engkau bawa untuk bertemu dengan Allah setelah tauhid.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban).

Lalu, datang laki-laki lain kepada Nabi SAW meminta baiat untuk berangkat hijrah. Ia berkata, “Aku datang kepadamu, sehingga membuat kedua orang tuaku menangis.”
Kemudian Nabi SAW bersabda, “Kembalilah kepada keduanya dan buatlah keduanya tertawa, sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis.” (HR Abu Dawud, Nasa’i, dan al-Hakim).

Ibu memiliki peran yang tak dapat digantikan oleh siapa pun. Dialah yang mencetak generasi unggul. Maka, tidaklah berlebihan jika seorang penyair mengungkapkan, Al-Ummu madrasatun, in a’dadtahaa a’dadta sya’ban thayyiba al-a’raaqi. Ibu itu ibarat sebuah sekolah, apabila kamu persiapkan dengan baik, berarti kamu telah mempersiapkan suatu bangsa dengan dasar yang baik.

Dalam hadis lain, Rasul SAW menempatkan ibu sebagai orang yang paling utama untuk dihormati. Beliau memerintahkan umatnya untuk senantiasa memuliakan ibunya, kemudian menyayangi ibunya. Setelah itu, barulah bapak. Wallahu a’lam. 

Dikutip dari Hikmah Republika edisi 29 Maret 2012 dengan judul: Membalas Kebaikan Ibu
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Imam Nur Suharno

Just For Mativation

Bismillahirrohmanirrohiym
Saudaraku mari kita Merenung sejenak..!!
------------------------------------------------------------------------

Suatu saat di Padang Mahsyar di Yaumul Hisab

Allah ta'ala memanggil seorang anak, "Yaa Abdullah, kemarilah..!!"
maka si anak pun menjawab, "Hamba.. Yaa robbi.."

Allah melihatnya,, terlihat wajahnya penuh dengan darah, gigi depannya hilang, kulitnya robek seperti baru saja di terjang peluru, matanya sayu dan dihiasi dengan airmata. Lantas Allah Ar-Rohman bertanya padanya,
"Apa gerangan yang terjadi padamu, apa yang terjadi semasa hidupmu?".

"Yaa Al 'Alim, sesungguhnya Engkau lebih tahu perihal apa yang terjadi pada hidupku", Jawab sang anak

"kamu benar duhai hambaKu, Tapi aku ingin mendengar kesaksian darimu, cerita menurut versi dan pandanganmu."

si anak menjawab, "Yaa Robbil izzati, saya adalah anak Palestina, anak yang lahir di Negri para nabi, Palestina Tercinta, saya wafat karena siksaan tentara Israel."

sedih bercampur marah, si anak tadipun melanjutkan, "Ayah saya ditangkap, dan tak pernah lagi kembali; kakak saya terkoyak, terlindas oleh TANK-TANK ZIONIS; adik saya disiksa dan dijadikan makanan anjing-anjing tentara; Ibu saya Diperkosa, dilecehkan, lalu disobek perutnya; Rumah saya di bombardir oleh rudal-rudal mereka; ladang saya dirampas, di ambil paksa; dan saya sendiri, tewas dengan tubuh berlumuran Bom Fosfor, Peluru, dan juga tulang yang remuk tertimpa reruntuhan MASJID, saat mereka menyerbu di pagi buta."

dalam tangisnya sang anak melanjutkan,
"Yaa Robbi, tapi lihatlah saudara-saudaraku disana..!!, mereka sibuk berfoya-foya, dilupakan oleh dunia. Mereka menyuplai Bom dan Peluru dengan memakan Produk-Produk musuhnya, menonton FILM-FILM yang melenakan mereka, sedang keuntungannya adalah peluru-peluru yang kini bersarang di tubuh para SYUHADA.

Mereka hanya diam, dan sedikit tergerak setelah melihat penderitaan kami, setelah itu, kembali Lupa. Berpura-pura meneriakkan 'FREE PALESTINE,.. FREE PALESTINE..!!' Tapi, itu hanya dimulut saja, hatinya hampa, kosong, sekosong Ruhiyahnya."

Allah bertanya, "Bagaimana kau tahu kalau saudara-saudaramu itu hanya berdusta belaka.??"

dalam airmata si anak menjawab dengan nada meninggi, "...
Mereka punya tenaga, tapi mereka habiskan untuk bekerja.
Mereka punya uang, tapi mereka habiskan untuk mobil,emas permata.
Mereka punya waktu, tapi malah bermalas-malasan, membuangnya untuk hal yang tiada guna.

Mereka tahu, kantong-kantong Jihad menerima calon Mujahid, minimal hafal 15 juz.. tapi..??? bahkan juz 'amma pun mereka tak serius menghapalnya.
Mereka tahu, ketahanan fisik diperlukan, tapi nyatanya..?? bahkan mereka jarang berolah raga.
Mereka tahu, bahasa arab itu wajib tuk bisa diterima di kamp-kamp calon syuhada, tapi apa?? mereka malah lebih obses dengan bahasa inggris, Jepang, bahkan korea.
Mereka jarang membaca Al-Qur'an, Qiyamul Lail, Halaqoh, apalagi Puasa.

Tarbiyah mereka seret, karna tak adanya kesungguhan,
Da'wah mereka macet, dan dunialah yang jadi tujuan,
buktinya,
dengan berkata: 'afwan akh, ana sakit.' 'afwan akh, besok ujian.' banyak alasan.
dan berfikir, 'selama ada uang atau perut kenyang. insya Allah ane jalan.'

Yaa Allah.. saudara macam apa mereka..?? sungguh saya lebih rela kalau saudara saya adalah 'sapi atau unta', karena susu dan tenaganya lebih berguna."

>*< Saudaraku, kira-kira jika engkau mendengarnya, apa yang kau rasakan..??
maaf sebelumnya jika diri ini menyinggungmu. tapi sungguh itu bukanlah maksudku. Ini adalah sedikit cerita 'Fiksi' yang mungkin akan menjadi 'Nyata' jika kita tidak segera BERUBAH dan MENYIKAPINYA.

Bangunlah para pemuda
Bersatulah Duhai Calon Pewaris Syurga
Tingkatkan Ruhiyah kita bersama
Dalam Satu Jama'ah dan satu kata
ALLOHU AKBAR, PALESTINA PASTI MERDEKA
DAN DARAH KAMILAH YANG AKAN IKUT MENGHIASINYA

STAY IN UNITY, AND ISLAM WILL BE WIN [that A promise; Ali Imron :103]

Good Story

She asked her :« why don’t you have a boyfriend ?!!

She replied with confidence : « you tell me : why would I have a bf ?!


I guess you have no answer for my question, but I have answers for yours :
First, I am a believer, I can’t do what ...displease my Creator, HE ordered me not to to take a bf so I should obey HIM.


Allah says in Qur’an: “nor those who take [secret] lovers. "(surat Al-Nisa-25)



Second, I am a daughter of a man who raised me to be a chaste woman, I am a sister of a man who isproud of my purity, so I don’t want todisappoint them, and most of all I don’t want to disappoint a third man who is my future husband and the father of my children in shaa Allah, because I am preserving myself to him only
My mom raised me to be a righteous woman so that I deserve a righteous man she never raised me to be a toy in any boy’s hand, but she raised me to complete the Deen of a pious man.

Also, I am not an easy girl who wouldbe impressed with sweet love words,but I am a proud Muslimah who is just like a pearl in its shell no one can touch it but a brave man who would value it and cherish its beauty...
Dear Muslimahs...Kno w your worth! and Be that One In Million who love to have the love of Their Lord than the love of a boyfriend!!!

KISAH NYATA : MALAM PESTA SEORANG PENGANTIN WANITA

(Musti baca ! Jangan dilewatkan ...)
Bismillahirr Rahmanirr Rahim ...
... Kisah nyata yang diceritakan oleh Syaikh Abdul Muhsin Al Ahmad ini terjadi di Abha, ibu kota Provinsi Asir Arab Saudi.

“Setelah melaksanakan shalat Maghrib dia berhias, menggunakan gaun pengantin putih yang indah, mempersiapkan diri untuk pesta pernikahannya. Lalu dia mendengar azan Isya, dan dia sadar kalau wudhunya telah batal.

Dia berkata pada ibunya : “Bu, saya mau berwudhu dan shalat Isya.”

Ibunya terkejut : “Apa kamu sudah gila? Tamu telah menunggumu untuk melihatmu, bagaimana dengan make-up mu? Semuanya akan terbasuh oleh air.”

Lalu ibunya menambahkan : “Aku ibumu, dan ibu katakan jangan shalat sekarang! Demi Allah, jika kamu berwudhu sekarang, ibu akan marah kepadamu”

Anaknya menjawab : “Demi Allah, saya tidak akan pergi dari ruangan ini, hingga saya shalat. Ibu, ibu harus tahu “bahwa tidak ada kepatuhan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Pencipta”!!

Ibunya berkata : “ Apa yang akan dikatakan tamu-tamu kita tentang mu, ketika kamu tampil dalam pesta pernikahanmu tanpa make-up?? Kamu tidak akan terlihat cantik dimata mereka! dan mereka akan mengolok-olok dirimu !

Anak nya berkata dengan tersenyum : “Apakah ibu takut karena saya tidak akan terrlihat cantik di mata makhluk? Bagaimana dengan Penciptaku? Yang saya takuti adalah jika dengan sebab kehilangan shalat, saya tidak akan tampak cantik dimata-Nya”.

Lalu dia berwudhu, dan seluruh make-up nya terbasuh. Tapi dia tidak merasa bermasalah dengan itu.

Lalu dia memulai shalatnya. Dan pada saat itu dia bersujud, dia tidak menyadari itu, bahwa itu akan menjadi sujud terakhirnya.

Pengantin wanita itu wafat dengan cara yang indah, bersujud di hadapan Pencipta-Nya.

Ya, ia wafat dalam keadaan bersujud. Betapa akhir yang luar biasa bagi seorang muslimah yang teguh untuk mematuhi Tuhannya!

Banyak orang tersentuh mendengarkan kisah ini. Ia telah menjadikan Allah dan ketaatan kepada-Nya sebagai prioritas pertama.

--- SubhanAllah...---

Semoga Bermanfaat...